Wednesday, April 06, 2016

Aku Bicara Perihal Cinta

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,

Walau jalannya sukar dan curam.

Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.

Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.


Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.

Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.

Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia

kan menyalibmu.


Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu,

demikian pula dia ada untuk pemangkasanmu.

Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu,

dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.


Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu,

dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.

Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.

Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.

Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.

Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.

Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;

Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.

Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.

Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta,

supaya bisa kaupahami rahasia hatimu,

dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.


Namun pabila dalam ketakutanmu,

kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.

Maka lebih baiklah bagimu,

kalau kaututupi ketelanjanganmu,

dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa,

tapi tak seluruh gelak tawamu,

dan menangis,

tapi tak sehabis semua airmatamu.


Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri,

dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.

Cinta tiada memiliki,

pun tiada ingin dimiliki;

Karena cinta telah cukup bagi cinta.


Pabila kau mencintai kau takkan berkata,

TUHAN ada di dalam hatiku,

tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati TUHAN”.

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta,

sebab cinta,

pabila dia menilaimu memang pantas,

mengarahkan jalanmu.


Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya.

Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan,

biarlah ini menjadi aneka keinginanmu:

Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali,

yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.


Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.

Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;

Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.

Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan,

dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;

Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;

Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu,

dan sebuah gita puji pada bibirmu.



Karya : Kahlil Gibran

Senandung Cinta


Jiwa yang terkapar nada rindu mengusik kalbu Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta
Nada kasih mengalir menembus sukma
Menyentuh batin mengalirkan sayang

Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta
Sungguh...betapa segala resah mendesah
Bimbang mengguncang dalam ketidak-abadian
Untuk siapa nada ini kan menyapa

Di relung jiwa bersemayam segala rasa
Terhempas risau, melayang hilang
Menjelajah hati menjawab tanya
Hadir membayang dalam bayang-bayang
Getar ujung jemari kabarkan kehadirannya
Nyata terasa getaran dijiwa.
Bening air mata, berkaca-kaca
Bak air telaga yang memantulkan gemerlap bintang

Sendu merayu ditengah heningnya malam
Bercengkrama bersama titik-titik embun
Membongkar dinginnya kabut rahasia
Hingga kebenaran, datang  menjelang

Nada lahir dari ujung renungan
Mengalun bersama kesunyian
Menepis semua kebisingan
Mengalir diantara mimpi dan bayangan

Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada
Rindu memecah sepi, lantang bergemuruh menderu hati
Menabur mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku menemukanmu

Karya : Kahlil Gibran

Cinta Yang Agung

Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil…bebaskan dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas lagi ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu tidak perlu mati
bersamanya…
Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang..
melainkan mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh

Karya : Kahlil Gibran

Nyanyian Sukma (song of the soul)

Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata; sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku, Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ; ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg nipis kainnya, dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.

Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Karena aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.

Pabila kutatap penglihatan batinku
Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh hujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.

Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya, Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.
Air mataku menandai sendu Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahasia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkirkan oleh kebisingan,
Dan dilipat oleh kebenaran,
Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan, Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesadaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.

Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan 'Kain' atau 'Esau' manakah yang mampu membawakannya berkumandang? Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
Suara manakah yang dapat menangkapnya? Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?

Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian? Siapa berani memecah sunyi dan lantang menuturkan bisikan sanubari
Yang hanya terungkap oleh hati?

Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?

Karya : Kahlil Gibran

Pandangan Pertama

Itulah saat yang memisahkan aroma kehidupan dari kesadarannya.
Itulah percikan api pertama yang menyalakan wilayah-wilayah jiwa.
Itulah nada magis pertama yang dipetik dari dawai-dawai perak hati manusia.
Itulah saat sekilas yang menyampaikan pada telinga jiwa tentang risalah hari-hari
yang telah berlalu dan mengungkapkan karya kesadaran yang dilakukan
malam, menjadikan mata jernih melihat kenikmatan di dunia dan menjadikan
misteri-misteri keabadian di dunia ini hadir.

Itulah benih yang ditaburan oleh Ishtar, dewi cinta, dari suatu tempat yang tinggi.
Mata mereka menaburkan benih di dalam ladang hati, perasaan
memeliharanya, dan jiwa membawanya kepada buah-buahan.

Pandangan pertama kekasih adalah seperti roh yang bergerak di permukaan
air mengalir menuju syurga dan bumi.
Pandangan pertama dari sahabat
kehidupan menggemakan kata-kata Tuhan, "Jadilah, maka terjadilah ia"

Karya : Kahlil Gibran

Tuesday, April 05, 2016

Pantun Nasehat


Terik mentari enak berenang sambil makan buah kelapa
Berbuat baik menolong orang Pasti akan dapat banyak pahala
Mengerjakan kerja janganlah malas Lahir dan batin janganlah culas
Jernihkan hati hendaklah ikhlas Jadilah seperti air di dalam gelas
Jika anda menjadi besar Tutur dan kata janganlah kasar
Janganlah seperti orang yang sasar Banyaklah orang menjadi gusar
Anak ayam turun sepuluh Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh- sungguh Supaya engkau tidak ketinggalan
Anak ayam turun sembilan Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan Tapi jangan sampai putus harapan
Anak ayam turun delapan Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan Jadikan itu jalan yang dituju
pergi merantau membawa bekal naiklah kuda dengan cemeti
tiada manusia yang hidup kekal pastilah kelak akan mati
Berenang didalam telaga masuk angin mintalah dipijat
orang yang dijamin masuk surga adalah yang tak terlewat shalat
Tiada boleh memetik jati Papan di Jawa di belah-belah
Tiada boleh sesuka hati Kita di bawah perintah Allah
Nasihat ayahanda ananda fikirkan Keliru syaitan ananda jagakan
Orang berakal ananda hampirkan Orang jahat ananda jauhkan
Menjemur padi terhujan basah dibeli dipasar ditukar benang
Walau hancur badan dikandung tanah Budi yang baik akan selalu dikenang

Pantun Jenaka

Jalan-jalan ke kota jakarta naik bis sama si supir galak
Eh kawan, Si Arman lagi jatuh cinta Kemarin nembak sekarang malah ditolak
Jalan-jalan tersesat di semak-semak Berteduh sebentar eh nemu minyak
Biar sekarang cinta gue ditolak Yang penting duit masih banyak
Jalan-jalan ke kota Biak Dari Jakarta pake pesawat terbang
Emang bener duit loe masih banyak Sayangnya dapat pinjem dari bank
Jalan-jalan ke kota Palembang Tak ada pesawat ya naik perahu layar
Biarin duit gue pinjem dari bank Yang penting makan di warteg tetep bayar
Jalan-jalan ke Kota Karanganyar Hujan datang jadinya basah
Biarin aja makan di warteg belum bayar Yang penting wajah gue mirip Irwansyah
Jalan-jalan ternyata bikin resah Pakaian basah perlu dijemur
Kata siapa wajah loe mirip Irwansyah Pasti Irwansyah lagi kecebur sumur
Jalan-jalan ke kota beli Jamur Mampir ke pasar beli pepaya
Mending gue, irwansyah kecebur sumur Daripada loe, mirip pawang buaya